NUNUKAN,- Sejumlah dokter spesialis yang bertugas di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Nunukan di Jalan Sei. Fatimah memilih kabur setelah masa dinasnya berakhir.

Dokter spesialis kandungan dan kebidanan RSUD Nunukan, Dr Amirudin Saini SPOG mengatakan, sudah tiga dokter yang kabur karena tidak betah.

“Yang betah hanya dokter bedah saja. Sudah tidak ada dokter spesialis yang betah. Saya ajak teman saya ke sini, saya sudah janjikan Rp 10 juta, tetapi tidak ada yang berminat,” ujarnya, saat hearing di Ruang Ambalat I, DPRD Nunukan.

Salah satu yang menyebabkan dokter spesialis tidak betah karena menyangkut masalah kesejahteraan mereka. “Satu tahun di sini baru kita terima jasa medik. Ada yang dua tahun baru menerima. Padahal itu hak kami, ini bisa terjadi karena semua dana disetor ke Pemda. Kami sharing dengan teman di kabupaten lain, penghasilan dokter spesialis jauh dari yang kita dapatkan di sini. Mereka senang melayani pasien miskin karena jasa mediknya tinggi. Bahkan mereka lebih senang melayani pasien miskin daripada yang biasa. Jangan terus-terus kita di rumah sakit pelayanannya yang dipermasalahkan, tetapi tidak mencari apa sebenarnya yang menjadi akar permasalahannya,” katanya.

Amirudin mengatakan, jasa medik yang diterimanya untuk mengoperasi satu pasien, sama dengan yang didapatnya saat melayani satu dokter pasien praktek.

“Padahal operasi memegang pisau, kita resiko tertular penyakit. Ada yang hepatitis, itu resiko kita tertular kalau ada luka sedikit saja. Guru-guru kami di Makassar, profesor dokter khusus hati dia meninggal karena penyakit hati,” katanya. (*)