NUNUKAN – Tidak ingin pemadaman bergilir (byarpet) terjadi berkepanjangan, PLN Cabang Berau yang membawahi PLN Ranting Nunukan rencananya akan menyewa 1 unit mesin pembangkit listrik berkekuatan 2 megawatt dari Jakarta, Desember nanti. “PLN tidak tinggal diam untuk atasi krisis listrik di Nunukan. Desember, ada rencana menyewa mesin dari Jakarta,” ungkap Asisten Manajer PLN Cabang Berau Arif Hidayat.

Seperti kondisi riil PLN Ranting Nunukan saat ini" Arif menjelaskan, bahwa PLN Nunukan harus melakukan pemadaman bergiliran, lantaran 2 unit mesin pembangkit yang ada, yakni MAN 2842 setiap harinya harus mendapat perawatan. Dampak dari perawatan mesin, tentu daya yang dihasilkan berkurang dari total keseluruhan daya yakni 4,9 MW. Berkurangnya daya tersebut, tentu ada konsekuensi, di mana ditetapkan pemadaman bergilir setiap harinya selama 6 jam.

“Beban puncaknya saja mencapai 4,8 MW,” sebut Arif. Dari 4,9 MW daya yang diproduksi oleh PLN Nunukan, lanjutnya, dibagikan kepada 5.670 pelanggan di Nunukan, baik golongan rumahtangga maupun swasta, industri kecil maupun usaha lainnya. Masih dikatakan Arif, biaya produksi PLN Nunukan saat ini mencapai Rp 1.850 per kwh, sementara yang dijual kepada masyarakat sebesar Rp 590 per kwh. Angka tersebut, lanjut dia, tentu di bawah biaya produksi yang sudah ada. Meski sebenarnya merugi, PLN Nunukan tidak bisa mengambil sikap untuk menaikkan harga tarif dasar listrik (TDL).

“Kalau soal kenaikkan TDL, kendalinya ada pada pemerintah daerah. Semua tergantung pemerintah lah,” jawab kepada harian ini ketika dikonfirm melalui selulernya. Terhadap rencana PLN Cabang Berau untuk menyewa mesin pembangkit baru, Sekretaris Kabupaten (Sekkab) Nunukan Drs Zainuddin HZ MSi menyambut gembira rencana tersebut. “Ya, mudah-mudahan ini menjadi salah satu solusi untuk mengatasi pemadaman bergilir di Nunukan. Pemerintah daerah mendukung rencana itu,” ungkap Sekkab di ruang kerjanya.

Seperti diungkapkan Sekkab sebelumnya, byarpet yang terjadi sejak beberapa tahun lalu sempat mengundang keluhan warga. Keluhannya adalah mengapa pemadaman kok sampai lama sekali, merugikan aktivitas warga terutama dalam usaha dan bisnis. Warga juga keluhkan, akibat byarpet, banyak peralatan elektronik yang rusak.Aspirasi warga tentang pemadaman itu, sambung Sekkab, tentu saja menjadi “PR” pemerintah daerah, bagaimana mencari solusi atau cara terbaik keluar dari krisis listrik yang terjadi. “Ya bertahap lah, kita sesuaikan kemampuan daerah untuk mengatasi krisis listrik di Nunukan,” lengkap Sekkab.